Meja Makan Besar
Meja makan itu berwarna coklat muda.
Berbentuk elips.
Kursinya besar-besar.
Mejanya besar.
Maklum, orang-orang yang menggunakannya juga besar-besar.
Selain itu, makannya juga selalu makan besar.
Sebenarnya semua pengguna meja makan itu lebih menyenangi bentuk meja makan yang moderen. Yang serba kecil. Yang serba chic. Tapi apa daya, enam orang itu besar-besar dan suka makan besar, jadi meja makan moderen yang kecil dan chic itu tidak punya kesempatan untuk menjadi bagian dari kehidupan enam orang manusia besar itu.
Hari pertama meja makan menghiasi rumah itu, enam orang besar itu bereaksi sama. Wah! Besar sekali. Tapi ketika mereka duduk, kenyamanan yang diberikan meja tersebut membuat mereka lupa akan besarnya ukuran meja tersebut.
Dimeja besar baru itu, enam orang besar tersebut mendapat tempat yang cukup lega untuk badan mereka sehingga mereka leluasa menyantap hidangan lezat yang selalu tersaji tiap malam. Menyantap makanan hingga tidak ada lagi ruang diperut mereka untuk, bahkan, satu mikrogram makanan pun.
Di ujung atas meja besar, duduk si sulung besar yang bossy. Di samping kanan dan kiri si sulung besar, ada Bapak dan Ibu besar. Bapak dan Ibu besar adalah orang tua bagi empat anak-anak besar ini. Setiap malam, Bapak besar akan terlihat menikmati ikan goreng, bakar dan ikan pallumara makanan khas orang Bugis. Betul! Setiap malam di meja makan itu harus ada tiga sajian ikan, satu digoreng, dibakar, dan dipallumara. Harus! Karena Bapak besar tidak suka makanan lain selain ikan, apalagi tempe, ugh! makanan jawa!, katanya.
Bapak besar yang waktu pulangnya selalu ditunggu-tunggu oleh empat anak besarnya agar bisa makan bersama, maklum kalau makan sebelum Bapak besar pulang, makannya terbatas. Selain itu, makan bersama Bapak besar juga seru, entah apa yang membuat seru. Mungkin celetukan-celetukan porno-nya yang tidak terduga-duga. Mungkin cerita-cerita yang lebih sering tidak lucu. Mungkin reaksinya yang cenderung berlebihan ketika tak sengaja terciprat air oleh anak-anak besarnya. Mungkin pertanyaan seperti ‘Siapa? Apa? Dimana? Kenapa? Kapan?’ yang senantiasa diulang-ulang ketika empat anak besarnya mencoba bercerita. Mungkin bukan karena itu semua. Mungkin karena keberadaannya saja.
Duduk di depan Bapak besar adalah Ibu besar, istrinya, ibu dari empat anak besar. Ibu besar terlihat pendiam dan tak senang berkata-kata. Ibu besar terlihat lebih senang mendengarkan celotehan semua orang besar di meja besar itu. Ibu besar terlihat lebih senang memasakkan hidangan lezat untuk disantap oleh lima orang besar lainnya. Itu hanya terlihat saja. Tapi Ibu besar, seperti yang lainnya, juga senang makan besar. Ibu besar tidak pendiam, kan hanya terlihat saja. Ibu besar mendengarkan semua percakapan untuk kemudian mengatakan sesuatu yang lebih dahsyat kadar ke porno-annya atau kadar kelucuannya atau kadar keseriusan yang dapat membuat semua orang besar itu meringis saking menjurusnya, tertawa tanpa bisa berhenti saking lucunya atau terdiam merenung karena bijaknya perkataan Ibu besar.
Ibu besar adalah pusat dari meja besar itu. Bukan, bukan meja besar saja, tapi rumah besar itu juga. Ibu besar adalah contoh Ibunda terbaik bagi empat anak besarnya dan istri yang berbakti bagi si Bapak besar. Kadang Ibu besar suka ngambek dan ngadat tanpa sebab, tapi begitu lihat muka Bapak besar, hilanglah semua rasa ingin ngadat. Entah karena takut malah di-ngadat-in oleh Bapak besar atau memang karena bahagia bertemu sang kekasih yang telah bersama selama 29 tahun.
Disamping kiri Ibu besar, duduk si Bungsu besar. Dengan suara tawanya yang menggelegar, si Bungsu ini membuat semua lelucon yang tidak lucu pun menjadi lucu. Si Bungsu dengan otak porno yang tertinggi di meja besar itu, dengan klaim, ‘Bagaimana gak porno? Liat aja Ibu dan Bapak!’ Hihihi.. benar juga sih.
Depan si bungsu besar, duduk nomor tiga besar. Dengan mulut kecil yang tidak pernah berhenti bicara, nomor tiga besar selalu menghiasi meja makan besar itu dengan berbagai cerita dari kegiatan-kegiatannya di hari itu. Nomor tiga akan selalu bercerita mengenai kisah cintanya dari tingkat satu yang selalu diawali dengan perkataan ‘Kisah Romantis Hari ini’ atau mengenai berbagai lelaki yang mendekatinya. Setelah mendengar cerita tersebut, Bapak besar akan selalu berkata ‘Tentukan pilihan dong, A atau B!’ (maklum inisialnya memang A dan B), setiap hari!
Setelah kisah romantis hari ini selesai, nomor tiga, tanpa bernafas, akan melanjutkan ceritanya dengan berbagai kejadian yang menimpanya setiap hari. Dari cerita nomor tiga, maka dengan kreatifitas si sulung besar, bungsu besar diikuti oleh Bapak dan Ibu besar, berubah menjadi cerita-cerita menjurus yang menghasilkan suara tawa menggelegar dari meja makan tersebut.
Ditengah tawa besar itu, terdapat suara kejijikan dari nomor tiga besar dan kakaknya, nomor dua besar. Nomor dua duduk di samping kanan nomor tiga. Nomor dua relatif pendiam dibanding tiga saudaranya yang besar. Diam. Diam. Diam. Habislah tiga piring nasi olehnya. Tidak hanya itu, diikuti oleh Brownies buatan Ibu besar, susu coklat buatannya sendiri dan ditutup oleh roti keju susu yang digemarinya.
Nomor dua yang germophobic, yang jijik melihat kertas-kertas yang menempel pada botol-botol saos. Nomor dua yang hampir tidak memiliki keinginan yang ‘nyeleneh’. Nomor dua yang selalu disebut oleh Bapak besar sebagai ‘anak yang dulu pernah merasa tidak disayang oleh Bapak besar tapi karena suatu kejadian di rel kereta api jadi sadar’. Nomor dua yang juga suka bercerita mengenai sekolahnya, temannya, dan cita-citanya yang kemudian jadi ajang kreatifitas bagi empat orang berotak porno di meja besar itu.
Kembali ke si sulung besar yang selalu dengan sok wibawa dan sok diam mendengarkan celotehan lima orang besar lainnya bercerita mengenai hari mereka, sambil sesekali menimpali dengan lelucon-lelucon porno yang dihubung-hubungkan dengan cerita-cerita yang sliweran di meja besar tersebut. Si sulung hanya sok diam saja, sebenarnya si sulung sangat menikmati keadaan ini.
Keadaan ketika tidak ada mulut yang tidak terbuka.
Keadaan ketika semua orang berebut bicara.
Keadaan ketika kecepatan tangan harus tinggi agar tidak kehabisan makanan.
Keadaan ketika lelucon-lelucon porno diselingi oleh teriakan-teriakan jijik nomor dua besar dan nomor tiga besar.
Keadaan dimana dia rela meninggalkan dunia saat itu juga, karena telah berada pada kebahagiaan yang tidak dapat ditandingi lagi oleh apapun.
Keadaan ketika surga terasa sangat dekat olehnya.
Di meja makan besar itu, enam orang besar tersebut terlihat sangat menikmati sedapnya makan malam buatan si Ibu besar. Tapi yang tidak terlihat adalah enam orang besar itu berada di surga dunia yang sangat bahagia.
-Untuk Bapak besar yang sekarang sudah ada di Surga yang sebenarnya-


1 Comments:
Kangen jadinya....:)
By
Kembang Dwisari, at 3:38 PM
Post a Comment
<< Home