Anak Mall
a short story
Kata mereka, aku anak mall.
Aku bilang, So?
Mereka bertanya, ada apa sih di mall?
Aku jawab, ada tenang dan damai.
Mereka tertawa.
Aku tak perduli.
Karena...
di antara suara-suara musik yang terlalu keras
di antara raut muka sedih lelaki yang sedang putus cinta
di antara bahagianya pasangan yang tengah dimabuk cinta
di antara tawa dua orang sahabat
di antara termenungnya orang yang sedang menunggu
di antara langkah mereka yang terburu-buru
di tengah hiruk pikuk mall yang besar
aku benar-benar menemukan tenangku dan damaiku.
Sabtu itu seperti biasa aku duduk di tempat kesukaanku. Di meja dengan empat kursi di sebuah pojok pada tepi sebuah lorong yang ramai. Tempat ini begitu penuh kontradiksi, paling tidak menurutku. Letaknya persis di depan eskalator dimana semua orang naik turun, di depan sebuah restoran fast food yang sangat digemari dan dekat sekali dengan pintu masuk bioskop yang selalu penuh dengan insan yang sedang jatuh cinta, namun anehnya, di tempat yang ramai itu, aku dapat tenggelam dalam kesendirianku, merenungi hidupku, menyelami tenangku dan menikmati damaiku.
Yang paling aku senangi di tengah damai yang ramai itu adalah memperhatikan orang lain merenungi hidup mereka. Melalui tatapan menerawang mereka, tawa gembira mereka, langkah mereka yang cepat, sentuhan lembut yang mereka berikan kepada kekasih, melalui polah mereka yang hanya dapat kuamati dalam waktu yang relatif singkat, aku dapat pergi ke dunia lain.
Dunia mereka.
Dalam pikiranku.
Di dunia kecil yang berjalan dalam pikiran kecilku itu, aku pergi ke berbagai tempat baru yang menyerupai masa laluku, hari iniku, dan masa depanku, bahkan terkadang aku dapat melihat masa depan yang tidak akan pernah kumiliki.
Aku selalu menunggu Sabtu karena indahnya saat itu. Saat dimana aku bisa terbang dan menyelam ke kehidupan lain. Biasanya aku akan bertemu dengan paling tidak satu dari kehidupanku melalui wajah-wajah mereka. Terkadang hanya masa laluku atau hari iniku, atau bahkan keduanya.
Namun, Sabtu ini berbeda. Aku tidak hanya akan bertemu dengan tenangku dan damaiku. Sabtu ini aku yakin akan bertemu juga dengan bahagiaku. Di sini, di tengah mall yang ramai.
Awalnya aku tidak begitu ingin memperhatikan orang lain hari ini, awalnya aku hanya ingin duduk dan menghayal. Setelah duduk dengan nyaman, aku mulai berpikir mengenai berbagai macam hal yang dapat aku hayalkan. Tadinya aku mau berhayal tentang cinta, tapi kemudian aku berpikir ‘Ah, sudah terlalu sering aku berkhayal tentang cinta, tapi cinta tidak pernah tiba.’ Lalu aku mulai berpikir mengenai mimpi menjadi penulis terkenal, namun jantungku malah berdetak kencang karena takut aku tak akan pernah bisa mencapainya, takut akan kegagalan, ‘bukan khayalan yang menyenangkan,’ pikirku.
Ketika aku mulai berpikir lagi mengenai khayalan yang menyenangkan, lamunanku terganggu oleh suara orang dewasa yang berbicara bak anak kecil. Mataku langsung menemukan sumber suara yang berasal dari meja yang berada di hadapanku. Benar saja dugaanku, suara itu datang dari seorang ibu yang tengah berbicara dengan kekasih kecilnya. Dibanding dengan wanita-wanita dull make-up di mall kelas atas ini, Ibu tersebut terlihat sederhana dengan setelan kaos putih-celana krem dan wajah yang sama sekali tanpa sentuhan kosmetik, namun begitu, dibalik kesederhanaannya dan tutur kata yang penuh kasih sayang terhadap putranya, aku dapat merasa wanita ini adalah ratu di rumahnya, wanita ini dengan wilayah kekuasaannya sendiri, wilayah kecil yang kita sebut dengan keluarga.
“Ricky mau makan apa sayang?” tanya si Ibu penuh kasih namun terdengar tegas dan ingin memerlukan jawaban yang cepat. Berdiri di samping meja yang serupa dengan meja yang ku tempati, si Ibu melihat ke arah seorang wanita yang duduk di samping putra kecilnya.
“Kamu mau apa Tin?” tanyanya singkat, tampak tidak perduli.
Wanita yang dimaksud, Tin-atau Tina dalam pikiranku-, menjawab sedikit salah tingkah dan malu-malu,”Terserah Ibu saja.”
Si Ibu hanya mengangguk dan terlihat acuh dengan jawaban tersebut, seakan tidak ada pengaruhnya jika si Tina menjawab pertanyaan tersebut dengan suatu menu tertentu. Perhatian si Ibu kembali kepada Ricky, kekasih kecilnya.
“Ricky makan McD saja yah? Mami beliin ayam dan kentang kesukaan Ricky, ya sayang?” tanya si Ibu yang dibalas dengan anggukan oleh Ricky kecil.
“Tin, jaga Ricky sebentar yah,” ujar sambil berlalu. Tina mengangguk.
Setelah si Ibu pergi, secara sembunyi-sembunyi kuperhatikan Tina memperbaiki duduknya. Kemudian, perhatiannya tertuju pada si Ricky kecil, mencoba membersihkan ingus Ricky yang sudah mulai keluar dari hidung kecilnya, baru sekejap tangannya menyentuh hidung kecil tersebut, tangan Tina sudah ditepis dengan sedikit kasar oleh Ricky kecil.
Tina terlihat agak kesal. Aku mengambil kesimpulan tersebut karena Tina tidak melanjutkan kegiatan membersihkan hidung tersebut, malah ia mulai melihat-lihat sekelilingnya. Melihat raut dan tatapan Tina, aku mulai menyelam ke dalam dunia Tina. Dunia Tina dalam pikiranku. Dalam lautan pikiran yang luas, kulihat Tina memandang dengan tatapan penuh iri sambil berpikir,’mengapa aku tidak terlahir seperti wanita-wanita cantik ini? Mengapa aku cuma menjadi seorang manusia yang seolah tak ada pilihan? Mengapa aku cuma bilang terserah ketika Nyonya menanyakan apa yang ingin ku makan? Padahal aku ingin sekali mencoba burger ayam McDonald’s yang kata Nur-teman baby sitterku- enak sekali rasanya. Mengapa aku harus melayani tuan kecil ini? Mengapa aku harus sabar ketika tuan kecil ini menampik tanganku dengan kasar? Mengapa aku takut bahwa nyonya akan marah jika aku tidak segera membersihkan hidung tuan kecil ini? Mengapa? Mengapa ayahku mesti seorang petani dari sebuah desa yang terpencil di pulau Jawa? Mengapa aku yang harus bertanggungjawab atas pendidikan adik-adikku? Mengapa? Mengapa?’
Lamunanku buyar, kulihat si Ibu telah kembali membawa makanan bagi Tina dan Ricky. Satu paket ayam dan satu buah burger. Sembari memperhatikan kegiatan si Ibu membagikan makanan pada kedua orang yang terlihat lapar ini, pandanganku terfokus pada burger ayam yang ada di meja tersebut. Kebetulan kah kalau aku baru saja berpikir bahwa Tina memang menginginkan burger tersebut? Entahlah. Aku kembali saja ke dalam dunia dalam pikiranku.
Di sana, kulihat Tina tersenyum gembira dalam hati bahwa ternyata si nyonya mengetahui apa yang diinginkannya. Mungkin bukan tahu tapi memang kebetulan itu yang paling murah di restoran itu. Tapi Tina tersenyum senang, karena akhirnya ia bisa merasakan lezatnya burger ayam yang senantiasa dibicarakan oleh Nur.
“Tin, kamu dan Ricky makan dulu lah, Ibu mau pergi ke Sogo sebentar yah. Jaga Ricky, jangan sampai dia lari-lari yah Tin,” ujar si Ibu sambil membelai kepala si Ricky kecil, kemudian si Ibu berjongkok di samping Ricky,”Mami pergi sebentar yah. Ricky sama suster trus makan yang banyak biar sehat. Hhmm, enak kan?’ Ricky mengangguk senang. Si Ibu kemudian berlalu.
Merasa bahwa Tina mengetahui pandanganku ke arahnya membuatku menoleh ke arah lain. Berpura-pura membaca buku di hadapanku yang memang kubiarkan terbuka tanpa ku baca. Dari sudut mataku, aku melihat Tina mulai menikmati burgernya, sambil sesekali membantu Ricky kecil dengan makanannya.
Aku melihatnya tertawa. Aku tertegun.
Kuperhatikan lagi Tina yang masih sibuk bermain dengan Ricky kecil sembari membantu bocah kecil itu memakan ayam gorengnya. Ricky terlihat bahagia dan dari tatapannya, aku bisa melihat bahwa bocah kecil itu sangat menyayangi pengasuhnya. Tidak hanya itu, bukan hanya Ricky yang bahagia, Tina juga terlihat bahagia.
Aku tertegun lagi.
Tiba-tiba aku merasa sangat picik. Aku malu dengan hal-hal yang baru saja aku pikirkan. Aku malu dengan sandiwara kecil yang aku mainkan mengenai wanita kurus di depanku ini. Aku malu.
Mengapa aku berpikir bahwa ia tidak bahagia? Mengapa aku begitu picik beranggapan bahwa karena Tina hanyalah seorang baby sitter, ia tidak bahagia? Mengapa aku berpikir bahwa karena ia berdandan sangat sederhana, maka ia dengan sendirinya cemburu dan iri terhadap wanita-wanita cantik lainnya? Mengapa aku berpikir karena ia tampak ringkih, maka ayahnya adalah seorang petani? Mengapa aku berpikir bahwa tampikan tangan kecil Ricky telah membuatnya marah?
Entahlah.
Apakah aku sudah begitu bercampur dengan dunia yang komersil ini sehingga aku mengukur kebahagiaan dari tampak luar seseorang? Dari pekerjaan yang ia lakukan, dari baju yang ia kenakan, dan dari kesederhanaan yang ia tampilkan.
Aku tak tahu apa yang aku pikirkan. Yang aku tahu, aku iri melihat puluhan wanita yang terlihat begitu cantik dan berkilau -walau tanpa make-up dan hanya mengenakan jeans- yang lalu lalang di hadapanku setiap hari Sabtu. Yang aku tahu, aku benci pekerjaanku, aku benci bahwa aku masih harus melakukan rutinitas setiap hari padahal aku hanya ingin menjadi menulis dan mencoba mencapai impianku menjadi penulis. Yang aku tahu, aku capek berhadapan dengan atasanku yang berpikir bahwa karena ia menggaji dengan jumlah yang besar maka ia berhak memerintahku melakukan semua pekerjaan termasuk yang bukan tanggungjawabku. Yang aku tahu, aku marah dengan ketidakberanianku untuk lari dari semuanya.
Mungkin bukan Tina yang tidak bahagia, namun aku. Karena di meja seberang, aku melihat Tina tertawa sementara aku di sini sendiri. Termenung. Mencoba mencari damaiku. Tenangku. Karena hidupku masih jauh dari tenang. Jauh dari damai. Masih penuh perjuangan. Paling tidak, perjuangan meraih mimpiku.
Lamunanku buyar lagi, kali ini karena aku merasa bahwa aku diperhatikan oleh seseorang. Tina memandangku, rupanya ia sudah menyadari bahwa aku telah memperhatikannya. Aku salah tingkah dan mencoba menoleh ke arah lain, namun aku melihat Tina memberikanku sebuah senyuman. Senyum persahabatan yang singkat dan dapat dirasakan ketulusannya. Aku tertegun sejenak. Kubalas senyumannya.
Sekarang aku tersenyum, karena aku tahu bahwa aku tidak sendiri dalam perjuangan ini. Paling tidak masih ada Tina yang harus berjuang lebih berat dariku. Jika ia saja bisa bahagia, aku yakin aku juga bisa.
Sabtu ini -seperti biasa- aku menjadi lebih bahagia. Bahagia dengan keadaanku. Bahagia dengan iriku. Bahagia dengan pekerjaanku. Bahagia dengan ketidakberanianku. Bahagia dengan mimpiku.
Bahagia menyebut diriku anak mall, karena di mall ini, sekali lagi aku bertemu dengan tenangku dan damaiku.

