Life Fictions

Monday, August 01, 2005

Belahan Jiwa

Kupandangi ia yang duduk di hadapanku. Kepalanya tertunduk. Wajahnya merona merah seperti biasanya. Kebaya biru muda yang dikenakannya terlihat sangat serasi dengan warna kulitnya yang putih bersih. Walau tertunduk, aku dapat melihat segurat senyum yang menghiasi wajah cantiknya.

‘Sempurna,’ ujarku dalam hati. Jika kesempurnaan memiliki wajah maka ia akan berwujud seperti Nina, begitu nama kekasihku yang saat ini tengah duduk di antara orangtuanya.

“Pilihanmu sempurna Har,” bisik Ibuku yang menyadarkan aku akan sekelilingku. Suara paman yang berbicara mewakili keluarga besar Kusnoto terdengar jelas saat ini. Dengan sopan paman menjelaskan maksud kedatangan rombongan kami pada Sabtu malam, untuk melamar Nina. Untuk menemani hidupku.


“Nin, aku ingin menikah denganmu,” ujarku pada suatu malam 2 bulan yang lalu, di teras rumah Nina. Wajah Nina terlihat terkejut, air yang tengah diteguknya hampir tersemburkan.

“Kenapa kamu Har? Salah makan?” jawabnya sambil terkekeh.

“Loh? Aku bilang mau menikahimu kok malah dibilang salah makan? Aku serius loh Nin,” kataku agak sedikit jengkel atas tanggapannya.

“Maaf Har, bukan begitu maksudnya. Cuma kamu sendiri kan yang bilang bahwa kita gak akan menikah dulu, paling enggak dua tahun lagi. Kamu juga yang selalu marah dan akhirnya kita jadi berantem kalo aku ngomong soal nikah. Jadi, gak salah dong kalau aku agak kaget?” ujarnya sambil menatapku dalam, menunjukkan rasa bersalah atas tanggapannya.

“Kamu serius Har?” lanjutnya masih menatapku. Hatiku terenyuh tak jadi kesal.
Aku mengangguk.

Kami berdua terdiam. Nina tertunduk.

“Bagaimana Nin?”
Nina masih tertunduk.

“Nin?” tanyaku seraya menggoyangkan tangannya. “Nin?”
Kulihat kepala Nina mengangguk pelan.

“Iya Nin?” tanyaku penuh debar ingin memastikan anggukan yang barusan kulihat, takut kalau itu hanyalah imajinasiku.
Nina mengangguk lagi. Wow! Ingin rasanya ku melompat, berteriak, memberi kabar kepada seluruh dunia bahwa Nina akan menikah denganku.

“Alhamdulillah,” ujarku pelan.

Nina masih tertunduk. Aku berdiri dari kursiku dan berlutut dihadapan wanita yang sangat kucintai ini. Ternyata ia menangis. Kutengadahkan wajahnya pelan.

“Aku menangis bahagia Har,” ujarnya sebelum aku sempat bertanya. Aku memeluknya.

“Aku cinta kamu. I promise you happiness,” bisikku.

Kring.

“Halo Sayang. Sudah makan siang belum?” ujar suara manis di ujung sana.

“Hey love, sebentar lagi, kebetulan kerjaan lagi banyak banget. Ada apa?” jawabku mencoba untuk melepaskan diri dari layar komputer dan memfokuskan diri pada telepon penting dari wanita yang akan mendampingi hidupku.

“Aku cuma mau nanya kamu udah makan atau belum aja. Gak apa-apa kan?”

“Yah enggak dong. Kamu sendiri udah makan belum?”

“Sudah. Har, nanti malam jalan yuk? Nonton gitu?”

“Wah sorry sayang, kayaknya aku gak bisa deh, entar malam ada kerjaan yang harus diselesaikan. Kamu tahu kan kalau sudah deadline seperti sekarang keadaan sangat hectic. Gak apa-apa yah? Kan malam minggu juga ntar ketemu,” ujarku sedikit menyesal.

“Oh. Ya sudah. Lagi sibuk yah?”

“Hm. Biasalah. Maaf yah Nin,” kataku masih merasa bersalah.

“Gak apa-apa kok. Balik kerja gih, aku juga mau ke pameran di sebelah kantor,” ujar Nina mencoba tenang di balik kekesalannya.

“Ok. Hati-hati yah.”

Klik.

Duh! Aku berbohong lagi. Entah sudah berapa kali aku menolak ajakan Nina. Padahal pekerjaan yang harus kulakukan juga tidak terlalu banyak, namun ada suatu hal penting yang harus kulakukan. Tanggungjawabku sebagai pria baik yang mencoba untuk memberikan yang terbaik pada wanita yang dicintainya.

“Nina meneleponku lagi tadi siang, Mei.”
Gadis yang kupanggil Mei mendongakkan wajahnya dan hanya mengangkat bahunya.

“Trus kamu bilang apa?”

“Aku bilang harus kerja malam ini. Aku capek Mei mesti berbohong terus!”

“Ya sudah katakan saja pada Nina yang sebenarnya, apa yang terjadi diantara kita.”

“Aku tidak bisa. Hari pernikahanku tinggal sebentar lagi.”

“Terserah kamu Har. Yang penting bagiku saat ini hanya dirimu dan aku,” Mei memegang tanganku dan rasa cemas langsung merayapi hatiku. Aku menghela nafas panjang, entah bagaimana lagi aku bisa merahasiakan Mei dari Nina.

Suara Chantal Kreviazuk menyanyikan Feels Like Home memenuhi setiap ujung kamarku. Nina menghadiahiku lagu ini semalam sebelum kami bertunangan, menurutnya hubungan kami memberinya rasa nyaman seperti home.

Entah lah apa pendapatnya tentang hubungan kita saat ini, apalagi terhadap aku yang senantiasa menolak untuk menghabiskan waktu dengannya, belum lagi alasan-alasan konyol yang kuberikan padanya. Awalnya hanya alasan terlalu banyak pekerjaan, yang masih bisa diterimanya. Lama-kelamaan aku kehabisan akal, puncaknya tadi siang ketika dia mengajakku untuk membeli barang-barang seserahan hari Sabtu nanti, aku menolak dengan alasan aku ada janji dengan teman-teman sekolahku.

Alasan bodoh! Terang saja dia marah besar, bisa-bisanya aku mendahulukan ‘teman’ dan bukan calon istriku.

“Aku tidak mengerti ada apa dengan kamu Har! Tapi aku tahu kamu pasti menyembunyikan sesuatu dariku,” ujarnya sedikit marah.

“Enggak Nin. Cuma aku ingin berkumpul dengan anak-anak aja sebelum kita menikah nanti,” jawabku mencoba memperbaiki keadaan.

“Memang kenapa? Memang kalau kamu sudah menikah dengan aku, aku akan melarang kamu kumpul dengan teman-teman kamu? Aku kan gak pernah melakukan itu Har!”

Aku terdiam.
Nina memang bukan tipe perempuan posesif yang selalu melarang pasangannya melakukan berbagai hal. Bahkan Nina pengertian sekali, dia tidak pernah marah kalau aku terlalu banyak kerja di kantor, tidak uring-uringan kalau aku berkumpul lama dengan teman-temanku, tidak cemberut kalau aku tiba-tiba membatalkan janji hanya karena ada job tambahan, pokoknya sempurna.

“Aku tahu kamu pasti menyembunyikan sesuatu dariku Har,” ujarnya lirih.
Aku masih terdiam. Aku memang menyembunyikan sesuatu darinya.

“Iya Har?”

“Tidak,” jawabku singkat.

“Aku ingin sekali percaya, tapi aku tidak bisa. I know you too much to believe that!”

Aku menghela nafas. Nina sangat mengenalku. Tidak orang yang kenal aku seperti dirinya, dari cara aku menghela nafas saja dia bisa tahu perasaanku, terkadang sebelum aku membuka mulut pun Nina sudah tahu apa yang akan kukatakan.

“Har, jika memang kamu tidak bahagia akan pernikahan ini, jika memang ada yang dapat membuatmu lebih bahagia lagi, maka katakan padaku. Siapa tahu hanya aku yang dapat membuatmu meraih kebahagiaan itu, atau bahkan menghalangimu untuk mendapatkannya. Jangan ragu Har, ikuti hatimu yah.”

Aku mengerti maksud perkataan Nina. Tidak ada jalan lain bagiku, aku harus memberitahu Nina semua rahasia yang telah ku simpan selama ini, jika aku tidak ingin kehilangan cintaku selamanya.

“Halo Nin,” sapaku canggung ketika ku lihat wajah lembut itu menyambutku di depan pintu.

“Hai Har,” balas Nina singkat sambil mempersilahkan aku duduk dengan gerakan tangannya.

“Ada yang ingin kukatakan padamu,” ujarku mencoba langsung ke inti pembicaraan melihat raut wajah Nina yang sendu.

Nina menatapku. Dari tatapannya aku tahu apa yang sedang bermain di dalam pikirannya, aku tahu apa yang membuat mata indahnya sendu dan hilangnya senyum indah dari wajah manisnya.

“Nina, tidak ada seorang wanita pun yang dapat mengerti aku seperti kau mengerti arti nafasku; menyayangiku seperti kau memelukku ketika aku butuh tempat untuk bersandar; melindungiku seperti kau menangkapku ketika aku akan jatuh; mencintaiku seperti kau memegang tanganku ketika aku membutuhkan teman...”

“Dan aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti itu bagimu, karenanya..”

Aku berhenti bicara karena kulihat Nina menangis.

“Hari, aku sudah tahu apa yang akan kau katakan. Aku begitu sempurna bagimu sehingga kau tidak bisa bersamaku kan? Ada yang lebih baik bagimu kan Har?” ujarnya ditengah tetesan airmatanya.

“Tidak ada seorang pun yang lebih baik bagiku Nina. Hanya dirimu.”

“Tidak usah bohong lagi padaku Har. Katakan saja yang sebenarnya. Mengapa kau tidak pernah lagi mau menghabiskan waktu denganku, selalu sibuk di kantor padahal kau ada di rumah seorang wanita bernama Mei...”

“Ssssh.. dengar dulu penjelasanku, Nin,” ujarku mencoba menghentikan perkataannya.

“Penjelasan apa lagi Har? Sudah lah!”

“Mei adalah guru menariku,” ujarku sambil menunduk.

“Menari?” tanya Nina dengan tatapan aneh.

“Nina, selama sebulan ini aku kursus privat dengan Mei so that I can dance with you at our wedding. Kau selalu bilang bahwa dansa dengan pasanganmu di hari pernikahanmu akan membuat pernikahanmu sempurna. Sedangkan aku tidak bisa berdansa, badanku kaku Nin!, jadi aku kursus sehingga pernikahan kita bisa sempurna bagimu. Karena aku tidak akan pernah bisa sempurna bagimu, tidak seperti engkau bagiku...”

Nina memelukku tiba-tiba.

“Kau sempurna bagiku Har. You’re my home when I’m lost. You’re my air when I can’t breathe. You’re my rock when I’m weak. You’re my everything, my soulmate. Kau tidak usah berdansa untuk menjadikan pernikahan kita sempurna, kau hanya perlu memegang tanganku.”

Kupeluk Nina erat.

Marriage happens when two imperfect people united and be perfect for each other.

Untuk Irul yang sudah menemukan belahan jiwanya. 7 Agustus 2005