Life Fictions

Monday, August 11, 2008

Kompas.Com

Belanja Iklan Rokok Sepi di Semester I 2008

JAKARTA, SENIN-Gencarnya kampanye antirokok oleh berbagai kalangan turut mempengaruhi menurunnya porsi belanja iklan produk rokok. Iklan rokok di seluruh media turun 7 persen dari semester I tahun sebelumnya yang mencapai Rp 748 miliar menjadi hanya Rp 699 miliar pada semester I tahun 2008.

Kecenderungan penurunan iklan rokok ini, menurut Senior Manager Business Development Nielsen Media Research Indonesia (NMRI) Maika Randini, baru terjadi pada tahun 2008 ini. Pasalnya, berbagai media mulai memberlakukan pembatasan terhadap iklan rokok. Seperti halnya batasan jam tayang iklan rokok di televisi harus diatas pukul 21.00. "Sekarang produk rokok larinya ke sponsorship karena iklan di media dibatasi geraknya," kata Maika, di Jakarta, Senin (11/8).

NMRI memaparkan belanja iklan produk rokok filter Gudang Garam Int`l mengalami penurunan 70 persen menjadi Rp 19 miliar pada semester pertama dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 66miliar. Dikatakan televisi yang biasanya menjadi pilihan bagi iklan rokok juga mengalami penurunan 9 persen dari tahun lalu yang mencapai Rp 674 miliar menjadi Rp 615 miliar pada tahun 2008. Sementara belanja iklan rokok di koran, majalah dan tabloid tidak masuk dalam daftar 10 besar belanja iklan hasil riset NMRI.(C10 -08)

Perang Tarif, Belanja Iklan Telekomunikasi Naik

JAKARTA, SENIN - Perang tarif antaroperator telekomuniasi mempengaruhi kenaikan belanja iklan di berbagai media sepanjang semester pertama 2008. Exelkomindo (XL) menghabiskan belanja iklan Rp 139 miliar atau meningkat 209 persen dibanding semestaer pertama tahun sebelumnya. Hal itu diungkapkan oleh senior manager bisnis development Nielsen Media Rrasearch Indonesia (NMRI), Maika Randini di Jakarta Senin (11/8).

"Operator telekomunikasi sedang hobi beriklan karena mereka gencar perang tarif" kata Maika. Berdasar data hasil penelitian NMRI, belanja iklan beberapa provider operator telekomunikasi mengalami kenaikan dibanding semester I tahun 2007. Selain XL, belanja iklan Esia juga naik 57 persen menjadi Rp 131 miliar dibanding tahun lalu yang hanya Rp 44 miliar.

Sementara kitu, Indosat IM3 naik 209 persen menjadi Rp 119 miliar, pada semester yang sama tahun lalu tercatat Rp 38 Miliar. Sedangkan Indosat Mentari naik 104 persen menjadi Rp 118,6 miliar dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 58 miliar. Telkom Flexi juga naik 72 persen menjadi Rp 110 miliar, dari Rp 64 miliar dan Telkomsel SimPATI naik 7 persen menjadi Rp 101 miliar dari Rp 95 miliar.

Namun untuk provoder operator telekomunikasi Telkomasel secara keseluruhan, turun 21 persen menjadi Rp 85 miliar dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 108 miliar. Reasearch ini dilakukan oleh NMRI pada 93 koran, 149 majalah dan tabloid, serta 19 stasiun televisi dengan tidak menghitung iklan baris serta diskon promo dan sebagainya. (c10-08)


Calon Pemda Paling Doyan Beriklan

JAKARTA, SENIN - Belanja iklan calon pemerintah daerah meningkat tajam pada semester ini.

Nielsen Media Research Indonesia (NMRI) memaparkan, pada semester I tahun 2008 belanja iklan calon pemerintah daerah di media massa melejit menjadi Rp 125 miliar ketimbang periode yang sama tahun lalu. Total belanja iklan di media massa untuk kategori koran, majalah dan tabloid, serta televisi tersebut pada semester lalu cuma Rp 19,5 miliar.

"Jadi, pada sektor ini calon pemda menyumbang lima persen dari total belanja iklan," kata Senior Manager Bussiness Development NMRI, Maika Randini, kepada pers, Senin (11/8). Dikatakan, televisi menjadi incaran para calon pemda dengan porsi 62 persen atau setara dengan Rp 22 miliar. Sementara, kategori koran menempati posisi kedua yakni 34 persen. Di posisi ketiga, ada majalah dan tabloid yang memperoleh bagian 4 persen.

Riset yang didasarkan pada publish rate card (daftar harga iklan) yang tidak termasuk iklan baris dan tidak menghitung diskon dan promo ini meneliti 93 koran, 149 majalah dan tabloid serta 19 stasiun televisi.


Tuesday, June 10, 2008

Menjaga

Tuesday, September 25, 2007

Sempurna

Suatu pagi, dalam sebuah kantuk yang amat sangatnya, lagu ini diputar diradio.. dan Abangku bilang: "Lagu ini laguku.. buat kamu.."

Aiiihhh.. Aiiih..

Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
kau membuat diriku akan slalu memujimu

Disetiap langkahku
Kukan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu

*
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Reff:
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna.. Sempurna..

Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku

Back to *

Saturday, September 01, 2007

Kita Bertanya, Al Qur'an Menjawab

I stumbled upon this email when cleaning my inbox. Good to read, I thought I put it here so my friends can read them as well.

KITA BERTANYA: KENAPA AKU DIUJI?
QURAN MENJAWAB: "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: "Kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji org2 yg sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui org2 yg benar dan, sesungguhnya Dia mengetahui org2 yg dusta." -Surah Al-Ankabut ayat 2-3

KITA BERTANYA: KENAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?
QURAN MENJAWAB: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." - Surah Al-Baqarah ayat 216

KITA BERTANYA: KENAPA UJIAN SEBERAT INI?
QURAN MENJAWAB: "Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya. " - Surah Al-Baqarah ayat 286

KITA BERTANYA: KENAPA RASA FRUSTRASI?
QURAN MENJAWAB: "Jgnlah kamu bersikap lemah, dan jgnlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah org2 yg paling tinggi darjatnya, jika kamu org2 yg beriman." - Surah Al-Imran ayat 139

KITA BERTANYA: BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?
QURAN MENJAWAB: "Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh (di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sepadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya (mencapai kemenangan)."

KITA BERTANYA: BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?
QURAN MENJAWAB: "Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk." - Surah Al-Baqarah ayat 45

KITA BERTANYA: APA YANG AKU DAPAT DRPD SEMUA INI?
QURAN MENJAWAB: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari org2 mu'min, diri, harta mereka dengan memberikan syurga utk mereka." - Surah At-Taubah ayat 111

KITA BERTANYA: KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
QURAN MENJAWAB: "Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dari Nya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal." - Surah At-Taubah ayat 129

KITA BERKATA: AKU TAK TAHAN!!!
QURAN MENJAWAB: "... ..dan jgnlah kamu berputus asa dr rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dr rahmat Allah melainkan kaum yg kafir." - Surah Yusuf ayat 12

...semoga kita semua menjadi orang-orang yang bersabar.. Amiin.

Monday, August 01, 2005

Belahan Jiwa

Kupandangi ia yang duduk di hadapanku. Kepalanya tertunduk. Wajahnya merona merah seperti biasanya. Kebaya biru muda yang dikenakannya terlihat sangat serasi dengan warna kulitnya yang putih bersih. Walau tertunduk, aku dapat melihat segurat senyum yang menghiasi wajah cantiknya.

‘Sempurna,’ ujarku dalam hati. Jika kesempurnaan memiliki wajah maka ia akan berwujud seperti Nina, begitu nama kekasihku yang saat ini tengah duduk di antara orangtuanya.

“Pilihanmu sempurna Har,” bisik Ibuku yang menyadarkan aku akan sekelilingku. Suara paman yang berbicara mewakili keluarga besar Kusnoto terdengar jelas saat ini. Dengan sopan paman menjelaskan maksud kedatangan rombongan kami pada Sabtu malam, untuk melamar Nina. Untuk menemani hidupku.


“Nin, aku ingin menikah denganmu,” ujarku pada suatu malam 2 bulan yang lalu, di teras rumah Nina. Wajah Nina terlihat terkejut, air yang tengah diteguknya hampir tersemburkan.

“Kenapa kamu Har? Salah makan?” jawabnya sambil terkekeh.

“Loh? Aku bilang mau menikahimu kok malah dibilang salah makan? Aku serius loh Nin,” kataku agak sedikit jengkel atas tanggapannya.

“Maaf Har, bukan begitu maksudnya. Cuma kamu sendiri kan yang bilang bahwa kita gak akan menikah dulu, paling enggak dua tahun lagi. Kamu juga yang selalu marah dan akhirnya kita jadi berantem kalo aku ngomong soal nikah. Jadi, gak salah dong kalau aku agak kaget?” ujarnya sambil menatapku dalam, menunjukkan rasa bersalah atas tanggapannya.

“Kamu serius Har?” lanjutnya masih menatapku. Hatiku terenyuh tak jadi kesal.
Aku mengangguk.

Kami berdua terdiam. Nina tertunduk.

“Bagaimana Nin?”
Nina masih tertunduk.

“Nin?” tanyaku seraya menggoyangkan tangannya. “Nin?”
Kulihat kepala Nina mengangguk pelan.

“Iya Nin?” tanyaku penuh debar ingin memastikan anggukan yang barusan kulihat, takut kalau itu hanyalah imajinasiku.
Nina mengangguk lagi. Wow! Ingin rasanya ku melompat, berteriak, memberi kabar kepada seluruh dunia bahwa Nina akan menikah denganku.

“Alhamdulillah,” ujarku pelan.

Nina masih tertunduk. Aku berdiri dari kursiku dan berlutut dihadapan wanita yang sangat kucintai ini. Ternyata ia menangis. Kutengadahkan wajahnya pelan.

“Aku menangis bahagia Har,” ujarnya sebelum aku sempat bertanya. Aku memeluknya.

“Aku cinta kamu. I promise you happiness,” bisikku.

Kring.

“Halo Sayang. Sudah makan siang belum?” ujar suara manis di ujung sana.

“Hey love, sebentar lagi, kebetulan kerjaan lagi banyak banget. Ada apa?” jawabku mencoba untuk melepaskan diri dari layar komputer dan memfokuskan diri pada telepon penting dari wanita yang akan mendampingi hidupku.

“Aku cuma mau nanya kamu udah makan atau belum aja. Gak apa-apa kan?”

“Yah enggak dong. Kamu sendiri udah makan belum?”

“Sudah. Har, nanti malam jalan yuk? Nonton gitu?”

“Wah sorry sayang, kayaknya aku gak bisa deh, entar malam ada kerjaan yang harus diselesaikan. Kamu tahu kan kalau sudah deadline seperti sekarang keadaan sangat hectic. Gak apa-apa yah? Kan malam minggu juga ntar ketemu,” ujarku sedikit menyesal.

“Oh. Ya sudah. Lagi sibuk yah?”

“Hm. Biasalah. Maaf yah Nin,” kataku masih merasa bersalah.

“Gak apa-apa kok. Balik kerja gih, aku juga mau ke pameran di sebelah kantor,” ujar Nina mencoba tenang di balik kekesalannya.

“Ok. Hati-hati yah.”

Klik.

Duh! Aku berbohong lagi. Entah sudah berapa kali aku menolak ajakan Nina. Padahal pekerjaan yang harus kulakukan juga tidak terlalu banyak, namun ada suatu hal penting yang harus kulakukan. Tanggungjawabku sebagai pria baik yang mencoba untuk memberikan yang terbaik pada wanita yang dicintainya.

“Nina meneleponku lagi tadi siang, Mei.”
Gadis yang kupanggil Mei mendongakkan wajahnya dan hanya mengangkat bahunya.

“Trus kamu bilang apa?”

“Aku bilang harus kerja malam ini. Aku capek Mei mesti berbohong terus!”

“Ya sudah katakan saja pada Nina yang sebenarnya, apa yang terjadi diantara kita.”

“Aku tidak bisa. Hari pernikahanku tinggal sebentar lagi.”

“Terserah kamu Har. Yang penting bagiku saat ini hanya dirimu dan aku,” Mei memegang tanganku dan rasa cemas langsung merayapi hatiku. Aku menghela nafas panjang, entah bagaimana lagi aku bisa merahasiakan Mei dari Nina.

Suara Chantal Kreviazuk menyanyikan Feels Like Home memenuhi setiap ujung kamarku. Nina menghadiahiku lagu ini semalam sebelum kami bertunangan, menurutnya hubungan kami memberinya rasa nyaman seperti home.

Entah lah apa pendapatnya tentang hubungan kita saat ini, apalagi terhadap aku yang senantiasa menolak untuk menghabiskan waktu dengannya, belum lagi alasan-alasan konyol yang kuberikan padanya. Awalnya hanya alasan terlalu banyak pekerjaan, yang masih bisa diterimanya. Lama-kelamaan aku kehabisan akal, puncaknya tadi siang ketika dia mengajakku untuk membeli barang-barang seserahan hari Sabtu nanti, aku menolak dengan alasan aku ada janji dengan teman-teman sekolahku.

Alasan bodoh! Terang saja dia marah besar, bisa-bisanya aku mendahulukan ‘teman’ dan bukan calon istriku.

“Aku tidak mengerti ada apa dengan kamu Har! Tapi aku tahu kamu pasti menyembunyikan sesuatu dariku,” ujarnya sedikit marah.

“Enggak Nin. Cuma aku ingin berkumpul dengan anak-anak aja sebelum kita menikah nanti,” jawabku mencoba memperbaiki keadaan.

“Memang kenapa? Memang kalau kamu sudah menikah dengan aku, aku akan melarang kamu kumpul dengan teman-teman kamu? Aku kan gak pernah melakukan itu Har!”

Aku terdiam.
Nina memang bukan tipe perempuan posesif yang selalu melarang pasangannya melakukan berbagai hal. Bahkan Nina pengertian sekali, dia tidak pernah marah kalau aku terlalu banyak kerja di kantor, tidak uring-uringan kalau aku berkumpul lama dengan teman-temanku, tidak cemberut kalau aku tiba-tiba membatalkan janji hanya karena ada job tambahan, pokoknya sempurna.

“Aku tahu kamu pasti menyembunyikan sesuatu dariku Har,” ujarnya lirih.
Aku masih terdiam. Aku memang menyembunyikan sesuatu darinya.

“Iya Har?”

“Tidak,” jawabku singkat.

“Aku ingin sekali percaya, tapi aku tidak bisa. I know you too much to believe that!”

Aku menghela nafas. Nina sangat mengenalku. Tidak orang yang kenal aku seperti dirinya, dari cara aku menghela nafas saja dia bisa tahu perasaanku, terkadang sebelum aku membuka mulut pun Nina sudah tahu apa yang akan kukatakan.

“Har, jika memang kamu tidak bahagia akan pernikahan ini, jika memang ada yang dapat membuatmu lebih bahagia lagi, maka katakan padaku. Siapa tahu hanya aku yang dapat membuatmu meraih kebahagiaan itu, atau bahkan menghalangimu untuk mendapatkannya. Jangan ragu Har, ikuti hatimu yah.”

Aku mengerti maksud perkataan Nina. Tidak ada jalan lain bagiku, aku harus memberitahu Nina semua rahasia yang telah ku simpan selama ini, jika aku tidak ingin kehilangan cintaku selamanya.

“Halo Nin,” sapaku canggung ketika ku lihat wajah lembut itu menyambutku di depan pintu.

“Hai Har,” balas Nina singkat sambil mempersilahkan aku duduk dengan gerakan tangannya.

“Ada yang ingin kukatakan padamu,” ujarku mencoba langsung ke inti pembicaraan melihat raut wajah Nina yang sendu.

Nina menatapku. Dari tatapannya aku tahu apa yang sedang bermain di dalam pikirannya, aku tahu apa yang membuat mata indahnya sendu dan hilangnya senyum indah dari wajah manisnya.

“Nina, tidak ada seorang wanita pun yang dapat mengerti aku seperti kau mengerti arti nafasku; menyayangiku seperti kau memelukku ketika aku butuh tempat untuk bersandar; melindungiku seperti kau menangkapku ketika aku akan jatuh; mencintaiku seperti kau memegang tanganku ketika aku membutuhkan teman...”

“Dan aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti itu bagimu, karenanya..”

Aku berhenti bicara karena kulihat Nina menangis.

“Hari, aku sudah tahu apa yang akan kau katakan. Aku begitu sempurna bagimu sehingga kau tidak bisa bersamaku kan? Ada yang lebih baik bagimu kan Har?” ujarnya ditengah tetesan airmatanya.

“Tidak ada seorang pun yang lebih baik bagiku Nina. Hanya dirimu.”

“Tidak usah bohong lagi padaku Har. Katakan saja yang sebenarnya. Mengapa kau tidak pernah lagi mau menghabiskan waktu denganku, selalu sibuk di kantor padahal kau ada di rumah seorang wanita bernama Mei...”

“Ssssh.. dengar dulu penjelasanku, Nin,” ujarku mencoba menghentikan perkataannya.

“Penjelasan apa lagi Har? Sudah lah!”

“Mei adalah guru menariku,” ujarku sambil menunduk.

“Menari?” tanya Nina dengan tatapan aneh.

“Nina, selama sebulan ini aku kursus privat dengan Mei so that I can dance with you at our wedding. Kau selalu bilang bahwa dansa dengan pasanganmu di hari pernikahanmu akan membuat pernikahanmu sempurna. Sedangkan aku tidak bisa berdansa, badanku kaku Nin!, jadi aku kursus sehingga pernikahan kita bisa sempurna bagimu. Karena aku tidak akan pernah bisa sempurna bagimu, tidak seperti engkau bagiku...”

Nina memelukku tiba-tiba.

“Kau sempurna bagiku Har. You’re my home when I’m lost. You’re my air when I can’t breathe. You’re my rock when I’m weak. You’re my everything, my soulmate. Kau tidak usah berdansa untuk menjadikan pernikahan kita sempurna, kau hanya perlu memegang tanganku.”

Kupeluk Nina erat.

Marriage happens when two imperfect people united and be perfect for each other.

Untuk Irul yang sudah menemukan belahan jiwanya. 7 Agustus 2005

Saturday, March 12, 2005

Anak Mall

a short story

Kata mereka, aku anak mall.
Aku bilang, So?

Mereka bertanya, ada apa sih di mall?
Aku jawab, ada tenang dan damai.

Mereka tertawa.
Aku tak perduli.

Karena...
di antara suara-suara musik yang terlalu keras
di antara raut muka sedih lelaki yang sedang putus cinta
di antara bahagianya pasangan yang tengah dimabuk cinta
di antara tawa dua orang sahabat
di antara termenungnya orang yang sedang menunggu
di antara langkah mereka yang terburu-buru
di tengah hiruk pikuk mall yang besar
aku benar-benar menemukan tenangku dan damaiku.

Sabtu itu seperti biasa aku duduk di tempat kesukaanku. Di meja dengan empat kursi di sebuah pojok pada tepi sebuah lorong yang ramai. Tempat ini begitu penuh kontradiksi, paling tidak menurutku. Letaknya persis di depan eskalator dimana semua orang naik turun, di depan sebuah restoran fast food yang sangat digemari dan dekat sekali dengan pintu masuk bioskop yang selalu penuh dengan insan yang sedang jatuh cinta, namun anehnya, di tempat yang ramai itu, aku dapat tenggelam dalam kesendirianku, merenungi hidupku, menyelami tenangku dan menikmati damaiku.

Yang paling aku senangi di tengah damai yang ramai itu adalah memperhatikan orang lain merenungi hidup mereka. Melalui tatapan menerawang mereka, tawa gembira mereka, langkah mereka yang cepat, sentuhan lembut yang mereka berikan kepada kekasih, melalui polah mereka yang hanya dapat kuamati dalam waktu yang relatif singkat, aku dapat pergi ke dunia lain.

Dunia mereka.
Dalam pikiranku.

Di dunia kecil yang berjalan dalam pikiran kecilku itu, aku pergi ke berbagai tempat baru yang menyerupai masa laluku, hari iniku, dan masa depanku, bahkan terkadang aku dapat melihat masa depan yang tidak akan pernah kumiliki.

Aku selalu menunggu Sabtu karena indahnya saat itu. Saat dimana aku bisa terbang dan menyelam ke kehidupan lain. Biasanya aku akan bertemu dengan paling tidak satu dari kehidupanku melalui wajah-wajah mereka. Terkadang hanya masa laluku atau hari iniku, atau bahkan keduanya.

Namun, Sabtu ini berbeda. Aku tidak hanya akan bertemu dengan tenangku dan damaiku. Sabtu ini aku yakin akan bertemu juga dengan bahagiaku. Di sini, di tengah mall yang ramai.

Awalnya aku tidak begitu ingin memperhatikan orang lain hari ini, awalnya aku hanya ingin duduk dan menghayal. Setelah duduk dengan nyaman, aku mulai berpikir mengenai berbagai macam hal yang dapat aku hayalkan. Tadinya aku mau berhayal tentang cinta, tapi kemudian aku berpikir ‘Ah, sudah terlalu sering aku berkhayal tentang cinta, tapi cinta tidak pernah tiba.’ Lalu aku mulai berpikir mengenai mimpi menjadi penulis terkenal, namun jantungku malah berdetak kencang karena takut aku tak akan pernah bisa mencapainya, takut akan kegagalan, ‘bukan khayalan yang menyenangkan,’ pikirku.

Ketika aku mulai berpikir lagi mengenai khayalan yang menyenangkan, lamunanku terganggu oleh suara orang dewasa yang berbicara bak anak kecil. Mataku langsung menemukan sumber suara yang berasal dari meja yang berada di hadapanku. Benar saja dugaanku, suara itu datang dari seorang ibu yang tengah berbicara dengan kekasih kecilnya. Dibanding dengan wanita-wanita dull make-up di mall kelas atas ini, Ibu tersebut terlihat sederhana dengan setelan kaos putih-celana krem dan wajah yang sama sekali tanpa sentuhan kosmetik, namun begitu, dibalik kesederhanaannya dan tutur kata yang penuh kasih sayang terhadap putranya, aku dapat merasa wanita ini adalah ratu di rumahnya, wanita ini dengan wilayah kekuasaannya sendiri, wilayah kecil yang kita sebut dengan keluarga.

“Ricky mau makan apa sayang?” tanya si Ibu penuh kasih namun terdengar tegas dan ingin memerlukan jawaban yang cepat. Berdiri di samping meja yang serupa dengan meja yang ku tempati, si Ibu melihat ke arah seorang wanita yang duduk di samping putra kecilnya.

“Kamu mau apa Tin?” tanyanya singkat, tampak tidak perduli.

Wanita yang dimaksud, Tin-atau Tina dalam pikiranku-, menjawab sedikit salah tingkah dan malu-malu,”Terserah Ibu saja.”

Si Ibu hanya mengangguk dan terlihat acuh dengan jawaban tersebut, seakan tidak ada pengaruhnya jika si Tina menjawab pertanyaan tersebut dengan suatu menu tertentu. Perhatian si Ibu kembali kepada Ricky, kekasih kecilnya.

“Ricky makan McD saja yah? Mami beliin ayam dan kentang kesukaan Ricky, ya sayang?” tanya si Ibu yang dibalas dengan anggukan oleh Ricky kecil.

“Tin, jaga Ricky sebentar yah,” ujar sambil berlalu. Tina mengangguk.

Setelah si Ibu pergi, secara sembunyi-sembunyi kuperhatikan Tina memperbaiki duduknya. Kemudian, perhatiannya tertuju pada si Ricky kecil, mencoba membersihkan ingus Ricky yang sudah mulai keluar dari hidung kecilnya, baru sekejap tangannya menyentuh hidung kecil tersebut, tangan Tina sudah ditepis dengan sedikit kasar oleh Ricky kecil.

Tina terlihat agak kesal. Aku mengambil kesimpulan tersebut karena Tina tidak melanjutkan kegiatan membersihkan hidung tersebut, malah ia mulai melihat-lihat sekelilingnya. Melihat raut dan tatapan Tina, aku mulai menyelam ke dalam dunia Tina. Dunia Tina dalam pikiranku. Dalam lautan pikiran yang luas, kulihat Tina memandang dengan tatapan penuh iri sambil berpikir,’mengapa aku tidak terlahir seperti wanita-wanita cantik ini? Mengapa aku cuma menjadi seorang manusia yang seolah tak ada pilihan? Mengapa aku cuma bilang terserah ketika Nyonya menanyakan apa yang ingin ku makan? Padahal aku ingin sekali mencoba burger ayam McDonald’s yang kata Nur-teman baby sitterku- enak sekali rasanya. Mengapa aku harus melayani tuan kecil ini? Mengapa aku harus sabar ketika tuan kecil ini menampik tanganku dengan kasar? Mengapa aku takut bahwa nyonya akan marah jika aku tidak segera membersihkan hidung tuan kecil ini? Mengapa? Mengapa ayahku mesti seorang petani dari sebuah desa yang terpencil di pulau Jawa? Mengapa aku yang harus bertanggungjawab atas pendidikan adik-adikku? Mengapa? Mengapa?’

Lamunanku buyar, kulihat si Ibu telah kembali membawa makanan bagi Tina dan Ricky. Satu paket ayam dan satu buah burger. Sembari memperhatikan kegiatan si Ibu membagikan makanan pada kedua orang yang terlihat lapar ini, pandanganku terfokus pada burger ayam yang ada di meja tersebut. Kebetulan kah kalau aku baru saja berpikir bahwa Tina memang menginginkan burger tersebut? Entahlah. Aku kembali saja ke dalam dunia dalam pikiranku.
Di sana, kulihat Tina tersenyum gembira dalam hati bahwa ternyata si nyonya mengetahui apa yang diinginkannya. Mungkin bukan tahu tapi memang kebetulan itu yang paling murah di restoran itu. Tapi Tina tersenyum senang, karena akhirnya ia bisa merasakan lezatnya burger ayam yang senantiasa dibicarakan oleh Nur.

“Tin, kamu dan Ricky makan dulu lah, Ibu mau pergi ke Sogo sebentar yah. Jaga Ricky, jangan sampai dia lari-lari yah Tin,” ujar si Ibu sambil membelai kepala si Ricky kecil, kemudian si Ibu berjongkok di samping Ricky,”Mami pergi sebentar yah. Ricky sama suster trus makan yang banyak biar sehat. Hhmm, enak kan?’ Ricky mengangguk senang. Si Ibu kemudian berlalu.

Merasa bahwa Tina mengetahui pandanganku ke arahnya membuatku menoleh ke arah lain. Berpura-pura membaca buku di hadapanku yang memang kubiarkan terbuka tanpa ku baca. Dari sudut mataku, aku melihat Tina mulai menikmati burgernya, sambil sesekali membantu Ricky kecil dengan makanannya.

Aku melihatnya tertawa. Aku tertegun.

Kuperhatikan lagi Tina yang masih sibuk bermain dengan Ricky kecil sembari membantu bocah kecil itu memakan ayam gorengnya. Ricky terlihat bahagia dan dari tatapannya, aku bisa melihat bahwa bocah kecil itu sangat menyayangi pengasuhnya. Tidak hanya itu, bukan hanya Ricky yang bahagia, Tina juga terlihat bahagia.

Aku tertegun lagi.

Tiba-tiba aku merasa sangat picik. Aku malu dengan hal-hal yang baru saja aku pikirkan. Aku malu dengan sandiwara kecil yang aku mainkan mengenai wanita kurus di depanku ini. Aku malu.

Mengapa aku berpikir bahwa ia tidak bahagia? Mengapa aku begitu picik beranggapan bahwa karena Tina hanyalah seorang baby sitter, ia tidak bahagia? Mengapa aku berpikir bahwa karena ia berdandan sangat sederhana, maka ia dengan sendirinya cemburu dan iri terhadap wanita-wanita cantik lainnya? Mengapa aku berpikir karena ia tampak ringkih, maka ayahnya adalah seorang petani? Mengapa aku berpikir bahwa tampikan tangan kecil Ricky telah membuatnya marah?

Entahlah.

Apakah aku sudah begitu bercampur dengan dunia yang komersil ini sehingga aku mengukur kebahagiaan dari tampak luar seseorang? Dari pekerjaan yang ia lakukan, dari baju yang ia kenakan, dan dari kesederhanaan yang ia tampilkan.

Aku tak tahu apa yang aku pikirkan. Yang aku tahu, aku iri melihat puluhan wanita yang terlihat begitu cantik dan berkilau -walau tanpa make-up dan hanya mengenakan jeans- yang lalu lalang di hadapanku setiap hari Sabtu. Yang aku tahu, aku benci pekerjaanku, aku benci bahwa aku masih harus melakukan rutinitas setiap hari padahal aku hanya ingin menjadi menulis dan mencoba mencapai impianku menjadi penulis. Yang aku tahu, aku capek berhadapan dengan atasanku yang berpikir bahwa karena ia menggaji dengan jumlah yang besar maka ia berhak memerintahku melakukan semua pekerjaan termasuk yang bukan tanggungjawabku. Yang aku tahu, aku marah dengan ketidakberanianku untuk lari dari semuanya.

Mungkin bukan Tina yang tidak bahagia, namun aku. Karena di meja seberang, aku melihat Tina tertawa sementara aku di sini sendiri. Termenung. Mencoba mencari damaiku. Tenangku. Karena hidupku masih jauh dari tenang. Jauh dari damai. Masih penuh perjuangan. Paling tidak, perjuangan meraih mimpiku.

Lamunanku buyar lagi, kali ini karena aku merasa bahwa aku diperhatikan oleh seseorang. Tina memandangku, rupanya ia sudah menyadari bahwa aku telah memperhatikannya. Aku salah tingkah dan mencoba menoleh ke arah lain, namun aku melihat Tina memberikanku sebuah senyuman. Senyum persahabatan yang singkat dan dapat dirasakan ketulusannya. Aku tertegun sejenak. Kubalas senyumannya.

Sekarang aku tersenyum, karena aku tahu bahwa aku tidak sendiri dalam perjuangan ini. Paling tidak masih ada Tina yang harus berjuang lebih berat dariku. Jika ia saja bisa bahagia, aku yakin aku juga bisa.

Sabtu ini -seperti biasa- aku menjadi lebih bahagia. Bahagia dengan keadaanku. Bahagia dengan iriku. Bahagia dengan pekerjaanku. Bahagia dengan ketidakberanianku. Bahagia dengan mimpiku.

Bahagia menyebut diriku anak mall, karena di mall ini, sekali lagi aku bertemu dengan tenangku dan damaiku.

Monday, February 28, 2005

The Wedding

...also posted in Minding Kikie...

The day was hot.
The trip to the venue was horrid.
Traffic Jam. Sunny. Hot, I can’t even feel the Air Con. Good thing I had my mom with me to talk endlessly about anything she found worth mentioning (which was everything). For once, I was actually glad she didn’t stop talking.

The event was gonna be the end to a ghastly week. It would hopefully answer my endless questions about how I really felt about the situation. How I really felt about him getting married.

Him. The love of my life.

For the past week, my feeling has been changing back and forth about this. One minute, I thought ‘I am all right. I never really love him that much anyways’, while other times –most of the time-, I was just a wreck about this, I kept on thinking that this is really the end of my love life. I will never find anyone that could fit me the way he is. Used to be. Has always been. And will always be.

Growing up I always have a clear idea of the type of a man that will fit me in every thing. That is perfect for me.

He would be quiet because I am a riot.
He would be funny because I like to laugh.
He would be a prankster because I was born to joke around.
He would be smart because I like to discuss about many things.
He would be sensitive because I also like to cry.
He would be nice looking (but not great looking) because I tend to be insecure.
He would not be perfect because I am not perfect.

And it would be exhausting to look for a perfect guy, don’t you think?
And it would be intimidating to be with a perfect guy, don’t you think?
I think so.

I met this prankster, whom I called G, in 2001 when I was taking my masters degree. He said so many funny things in the class that I knew instantly we were gonna be bestfriends. We are. During those master years, I could count on him on anything. From the problems in class to things in life. He even knew how to handle me when I was pissed with people, by sitting next to me and listened to all my whining. He gave me good advices that actually worked for all those problems.

I did the same thing for him. Or at least, I tried.

He had a girlfriend. Not only that, he was also faithful.
The bad thing was, faithful was the thing that attracts me to him.
Has it become my pattern? To fall for someone that I can’t have?
Am I really afraid of rejection that I tend to go after those whom I know will reject me?
I don’t know. A friend told me that I am probably a masochist. Am I?

I am not.
I genuinely love this guy.
I like him.
With all my head and heart.
Because he made me smile, laugh, helped me through many of my ups and downs, and most importantly, he gave me hope that there are in fact, a good man in this world.

Face it, you don’t see many good guys anymore. The ones who kept their words, the ones who care for your feelings, the ones who are sweets, the ones who pray because he loves GOD, the ones who are down-to-earth nice.

That’s why I stick to him. I believe that I would be able to change the way he saw me. One day it happened. We were just studying with 2 other guys from the class when one of the guys mentioned something about friendship between opposite genders. Both guys and I agreed that it could happen, based on experience. But G disagreed immediately, he said that it is impossible to happen. I was stunned. What did he think of me all this time?

The guys instantly pointing his friendship with me to make their point. And he said, ‘I was not saying that it’s impossible like it won’t ever happen, some will work, but it will never be as pure as if you’re bestfriends with the same sex, because with opposite sex, you’ll have all this feeling as well.’

I was more stunned by this statement. Then one of the guys answered again,’That means you have all these feelings for K then?’

‘Yes.’ He said promptly. A word that rocked me. I looked calm and even, laughed a bit. But I felt like jumping. I made my own conclusion that day. If he wasn’t with his girlfriend, he would go for me. It’s the best rejection ever. Since I knew he wouldn’t ever break up with his girlfriend, I felt safe. It’s not me, it’s the situation.

Time went by. What do we know? Last year, he asked me to lunch. As I sat in front of him -unaware what he was about to say-, I told him about my life recently. As I became comfortable, I noticed that he looked sadder, paler, his smile felt bitter, oh my, what happened to him, I thought. Then he said,’I broke up with A.’

What? Who broke up with whom? You wouldn’t do it in million years.
I didn’t. She did. She found another guy.
What? How come?
I don’t know K. She found another guy. I am devastated.

He was.
At that time, the only thing that went through my mind was I hate seeing him like this. How he could be happy again? Could he be happy again? As bestfriend, could I help him be happy again?
I was not happy at all. I was also sad, went pale, and bitter.
I should be happy, but I wasn’t. I remembered I cried for him. I remembered I was sad for him for days. But what I remembered the most was I hate, HATE, seeing him like that.

Eventually, he was happy again. At least in front of me. He laughed again. At least when he was with me. He joked around again. He was back. He was even better with the religion stuffs. But, he’s more serious about other things. Even that never bothers me.

After a while, he told me he wanted to get married. He needed someone. To share. To hold. To simply be with him.

I am that person. I am. I am.
I couldn’t see him with anyone else but me.
Oh, I am that person.

So, I asked him to lunch.
I told him how I felt, which I am sure he knows.
I told him that he’s the only person that would be good for me.
I told him that I am the only person who could make him happy.

I sounded desperate. I didn’t, but if I did, I didn’t care. I still don’t.
I just wanted him to know. I took all chances. All risks.
I wanted him to know what I felt.
I didn’t need any answers.
I just wanted him to know.

He just sat there with all his quietness.

Months later, he asked me to lunch.
That day, he told me that he’s been thinking about what I said. He told me he’s been praying to GOD to show him the best one to hold and to share in his life journey. The one who could make him happy and be happy with him. He has the answer.

It’s not me.
It’s someone else.
He looked uneasy and uncomfortable, as he said that.
I gave him the nicest smile and told him that it’s all right.

It was.

Until I held his wedding invitation in my hand.
It didn’t make me cry.
It didn’t make me fall on my knees.
It didn’t make me breakdwown.
It made me feel worse.

***

‘K, we’re here.’ My mom gently held my hand.
I took a big long breath.
This is it. I got see the woman who will be the perfect person for my perfect person.

As I stepped into the building, as I went up the elevator, as I signed the guest book, as I received the small gifts from the receptionist girl, as I said hi to my best friend, R, who were also there, as I entered the ballroom, I held my breath and tears. I held R’s hands tightly. ‘Hold me.’

From the door, I could see him there. I could see his perfect person. I could see his smile. I could see him laughing. I could see that he’s happy. Again.

I could still feel my sadness. I could still feel the knot in my heart. I could still cry. I could still break down.

But as I approached him, as I shook his hand to congratulate him, as I shook his wife’s hand, as I watched his smile for the closeness, I felt happy for the first time since he told me that it’s not me.

Happy because love is not about making ourselves happy, it’s about making the ones you love happy. And he’s happy. So, I am happy.

And it’s enough.
Because just around the corner, I believe I will find another perfect person for me. If not, I still have R’s (and my other loved ones’) hand to keep me strong and of course, HAPPY.

-to G and L, have a wonderful happy journey-

:to Retti, Ricky, Ika, Citra, Leli, Mama, Mbak Venni – thanks for holding my hands: